Kesibukan di sebuah restoran besar di Dubai, Uni Emirat Arab, baru saja mereda. Setelah memimpin timnya melewati jam-jam sibuk, Kornelius Ratu akhirnya bisa melepas seragam kerjanya.
“Di dapur, kami biasanya kerja delapan hingga 10 jam sehari. Dan berdiri terus,” ucap lelaki asal Toraja ini, saat diwawancarai Mojok, Sabtu (10/10/2026).
Bagi kebanyakan orang, pulang kerja setelah 10 jam berdiri berarti adalah waktunya rebahan. Namun, bagi Kornelius, ini saatnya “berganti peran”. Di kamarnya, layar laptop kembali menyala. Ia bersiap menuntaskan modul kuliah Universitas Terbuka (UT) sebelum pagi tiba.
Modal diploma, nekat kerja ke luar negeri
Kornelius sendiri merupakan perantau asal Sulawesi Selatan yang sudah bertahun-tahun meniti karier di hotel luar negeri, terhitung sejak tahun 2008.
Perjalanannya bermula di Uni Emirat Arab. Di Dubai, ia bekerja selama 15 tahun, dan sempat dipindah ke Oman, sebelum kini menetap di Kanada.
Saat pertama kali ke luar negeri, Kornelius mengaku hanya berbekal ijazah Diploma Perhotelan.
“Saya pertama kali ke Dubai itu hanya dengan diploma perhotelan,” kenangnya.
Ambil kuliah S1 di Universitas Terbuka jalur Non-SIPAS
Sadar akan ketatnya persaingan kerja di luar negeri, ia pun ingin meningkatkan kemampuan dan kepercayaan dirinya. Hal itulah yang mendorongnya mengambil kuliah S1 Manajemen di UT.
“Persaingan di luar negeri tentu saja lebih kompetitif dibanding dalam negeri karena kita berasal dari berbagai macam latar belakang dan negara,” kata Kornelius.
“Untuk dipromosikan ke jenjang karier yang lebih tinggi, tentu harus bisa bersaing,” imbuhnya.

Alhasil, pada tahun 2018, ia resmi mendaftar kuliah S1 Manajemen secara full online, via jalur Non-Sistem Paket Semester (Non-SIPAS). Tujuannya sederhana, ia ingin mencari ilmu, mendapat gelar sarjana, sekaligus membangun rasa percaya diri di dunia kerja internasional.
Berkelahi dengan waktu di negeri orang
Meskipun demikian, Kornelius mengaku bahwa bekerja sambil kuliah jarak jauh sangat menguras fisik dan pikiran. Apalagi, saat itu ia baru saja diamanahi jabatan dengan tanggung jawab besar setelah dipindah ke Oman.
“Tidak bisa dipungkiri kalau bekerja di luar negeri tentu saja lebih capek. Tingkat profesionalisme itu sangat tinggi, kita dituntut untuk bekerja sangat profesional,” jelas Kornelius.
Dengan jam kerja 8 hingga 12 jam sehari dan libur hanya dua hari seminggu, ia harus pintar-pintar membagi waktu. Pasalnya, tugas kuliah dari UT juga padat.
Dalam satu semester, ia harus mengikuti delapan kali diskusi forum dan mengumpulkan tiga tugas besar pada minggu ketiga, kelima, dan ketujuh.
Non-SIPAS, opsi terbaik para pekerja dan diaspora
Untuk menyiasati jadwal yang padat, Kornelius memanfaatkan jalur Non-SIPAS. Lewat sistem ini, ia tidak harus mengikuti jadwal kaku dari kampus.
“Saya bebas memilih jenis mata kuliah dan jumlah SKS sesuai kemampuan tiap semester,” jelasnya.
Karena seluruh proses belajarnya full online, ia tak perlu datang ke kampus. Sistem mandiri ini sangat cocok untuk pekerja sepertinya, karena waktu belajar bisa disesuaikan sepulang kerja atau saat hari libur.
“Bagi saya, karena jadwalnya mandiri, sistem ini sangat cocok bagi pekerja migran yang memiliki jadwal kerja padat (8–12 jam sehari) seperti saya,” tegasnya.
Untuk menjaga beban belajarnya agar tidak memicu stres, Kornelius memakai strategi mix and match. Ia sengaja mengambil mata kuliah yang sulit bersamaan dengan yang mudah dalam satu semester.
Kuliah di Universitas Terbuka, ilmunya bisa langsung diterapkan
Keuntungan terbesar bekerja sambil kuliah, seperti yang sempat dijalani Kornelius, adalah ilmunya bisa langsung diaplikasikan.
Materi manajemen yang ia baca dari modul pada malam hari, tidak sekadar jadi teori. Keesokan harinya, materi tersebut langsung dipraktikkan saat memimpin tim di restoran tempatnya bekerja.
“Materi-materi yang didiskusikan tiap minggu itu bisa langsung saya terapkan di tempat kerja, karena kebetulan saya sudah jadi supervisor dan floor manager saat kuliah waktu itu,” tuturnya.
Saat menempuh kuliah S1 Manajemen di UT, Kornelius memang sudah menduduki posisi sebagai floor manager dan supervisor. Posisi ini menuntutnya untuk mengelola operasional harian, memimpin tim kerja, serta mengambil keputusan-keputusan manajerial di tempat kerja secara langsung.

Alhasil, memiliki pemahaman ilmiah di bidang manajemen secara signifikan meningkatkan kepercayaan diri Kornelius dalam menjalankan tugas sehari-hari.
Ia merasa bahwa bekal ilmu akademik yang diterima dari UT membantunya berinteraksi, memimpin tim dari berbagai latar belakang budaya imigran, serta menyelesaikan persoalan kerja dengan cara yang lebih terstruktur dan profesional.
Kornelius sendiri berhasil lulus tepat waktu dalam empat tahun dengan nilai IPK memuaskan, yakni 3,41. Berkat prestasinya, ia diundang ke Jakarta pada awal 2023 sebagai perwakilan lulusan luar negeri.
“Sayangnya, impian memakai toga di tanah air harus kandas karena perusahaan tidak memberikan izin cuti.”
Dari Dubai ke Kanada
Lebih dari 15 tahun hidup di Timur Tengah, perjalanan karier Kornelius juga menjadi saksi perjuangan perubahan nasib pekerja rantau. Dulu di Dubai, ia bercerita bisa menikmati sistem bebas pajak, sehingga gajinya utuh diterima 100 persen.
Kini, ia sudah pindah dan menetap di Kanada. Di negara baru ini, ia harus kembali beradaptasi dengan kondisi yang jauh berbeda.
“Sementara di Kanada pajaknya tinggi dan biaya hidup sangat tinggi,” ujarnya.
Menghadapi tekanan biaya hidup yang tinggi, rasa rindu kampung halaman, dan proses adaptasi yang tidak pernah usai, Kornelius tetap tangguh. Namun, menurutnya ketahanan mentalnya sudah terbentuk sejak ia berjuang menjadi mahasiswa jarak jauh.
“Anak-anak UT itu menurut saya sudah terbiasa bekerja keras dan mempunyai keinginan yang kuat untuk menyelesaikan pendidikan. Fighting spirit yang dimiliki anak UT lebih tinggi,” ungkapnya.
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Kuliah di UT Dikira Bikin Kehilangan Relasi, Mahasiswanya Malah Bisa Membangun Jejaring sampai Luar Negeri atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan