{"id":420,"date":"2026-10-19T11:47:52","date_gmt":"2026-10-19T11:47:52","guid":{"rendered":"http:\/\/localhost\/wordpress\/pengendara-plat-ab-alias-warlok-jogja-lebih-suka-pakai-kode-gerak-tubuh-buat-belok-lampu-sein-dan-spion-tak-cukup-meyakinkan\/"},"modified":"2026-10-19T11:47:52","modified_gmt":"2026-10-19T11:47:52","slug":"pengendara-plat-ab-alias-warlok-jogja-lebih-suka-pakai-kode-gerak-tubuh-buat-belok-lampu-sein-dan-spion-tak-cukup-meyakinkan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wordpress.ichisolution.cloud\/?p=420","title":{"rendered":"Pengendara Plat AB alias Warlok Jogja Lebih Suka Pakai Kode Gerak Tubuh buat Belok, Lampu Sein dan Spion Tak Cukup Meyakinkan"},"content":{"rendered":"<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau diperhatikan, ada dua kebiasaan berkendara motor plat AB Jogja yang dianggap mengherankan. Sering kali masih menggunakan isyarat gerak tubuh untuk memberi kode ke pengendara lain, padahal fungsi-fungsi tersebut sudah melekat pada motor.\u00a0<\/span><\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-weight: 400;\">***<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain persoalan cara berkendara yang belakangan diresahkan, sebagaimana dalam tulisan \u201c<a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/urban\/pengendara-plat-ab-joga-tidak-sesantun-itu-aslinya-ngawur\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pengendara Plat AB Jogja Tidak Sesantun yang Diromantisasi, Zuzur Aslinya bikin Kesal dan Kaget dengan Kebiasaan Mak Kluwer<\/a>\u201c, cara komunikasi orang Jogja juga dianggap kerap membingungkan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang paling umum antara lain: Orang luar Jogja seperti saya sering mengernyitkan dahi kalau sudah bertanya soal lokasi tertentu kepada warlok Jogja. Kebiasaan orang asli Jogja yang saya temui, pasti <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/jogja-nggak-ramah-bagi-orang-yang-buta-arah-mata-angin\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">menjawab pakai arah mata angin<\/a> (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">lor-kidul-wetan-kulon: utara-selatan-timur-barat).\u00a0<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara beberapa yang lain mengaku, mereka sering dibingungkan dengan model singkatan untuk nama-nama tertentu (<a href=\"https:\/\/www.liputan6.com\/regional\/read\/5020023\/jangan-ngaku-orang-jogja-kalau-belum-tahu-singkatan-nama-jalan-dan-tempat-ini\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">orang Jogja suka menyingkat nama sesuatu<\/a>). Misalnya yang paling populer: Jakal untuk menyebut Jalan Kaliurang, Concat sebagai akronim Condongcatur, Alkid untuk menyingkat Alun-alun Kidul, dan seterusnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, kata Aderifki (24) selaku warlok Jogja, ternyata cara komunikasi orang Jogja di jalanan\u2014terutama pengendara motor dengan plat AB\u2014juga kerap membuat orang lain terheran-heran. Bahkan untuk sesama orang Jogja sendiri.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejauh pengamatannya, ia kerap mendapati pengendara motor plat AB masih menggunakan bahasa tubuh untuk memberi isyarat terhadap pengendara lain yang fungsinya sebenarnya sudah ada di motor.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Isyarat belok pakai lambaian tangan, padahal ada lampu sein<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai warlok Jogja, Aderifki jelas sudah cukup akrab dengan jalanan Jogja. Terutama untuk jalanan di Kota Jogja, Sleman, dan Bantul.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari mobilitas hari-hari di jalanan Jogja, Aderifki mengaku sering mendapati dengan model pengendara motor plat AB seperti ini: ketika pengendara itu hendak menepi, atau berbelok, entah menyalakan lampu sein atau tidak, yang pasti ia akan <a href=\"https:\/\/kumparan.com\/kumparanoto\/sein-mati-pengendara-belok-tak-lambaikan-tangan-bisa-didenda-rp-250-ribu-20j0AQivcEg\/4\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">memberi isyarat dengan melambaikan tangan<\/a>.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya, kalau ia mau belok ke kiri, maka tangan kirinya langsung <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">awe-awe. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Menjadi isyarat tradisional pengganti lampu sein, memberi kode ke pengendara di belakangnya kalau ia hendak berbelok ke kiri.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cWalaupun motornya Honda BeAT keluaran terbaru, tapi tetap pakai isyarat tangan. Maksudku, kalau Honda BeAT dan masih baru, masa lampu sein-nya sudah mati,\u201d ungkap Aderifki saat kami berbincang di angkringan pada Senin (19\/10\/2026) pagi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKadang ada yang cuma pakai tangan, nggak menyalakan lampu sein. Tapi ada juga yang tetep menyalakan lampu sein, cuma dia masih juga pakai isyarat tangan,\u201d sambungnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Kenapa pengendara motor plat AB Jogja suka pakai tangan buat sein?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cara berkendara tersebut sempat membuat Aderifki mendapat pertanyaan penuh keheranan dari beberapa temannya yang bukan warlok Jogja: kok bisa seperti itu?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejauh pengamatan Aderifiki, pengendara motor Plat AB yang punya kebiasaan tersebut umumnya didominasi oleh kalangan bapak-bapak dan menuju lansia. Ia menyebutnya sebagai \u201cwong lawas\u201d.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAku akhirnya cari tahu di kalangan bapak-bapak di kampungku. Alasannya ternyata kebiasaan yang refleks terbawa dari dulu. Karena dulu kan masih pakai motor bebek yang kalau ada bagian motornya rusak, seperti lampu sein, nggak diperbaiki. Jadi <a href=\"https:\/\/www.gridoto.com\/read\/222248487\/street-manners-belok-tanpa-sein-melanggar-hukum-kalau-pakai-isyarat-tangan-boleh-enggak\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">sebagai ganti lampu sein ya pakai tangan<\/a>,\u201d jelas Aderifki.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, jawaban cukup kuat yang bisa Aderifki terima adalah: Biar lebih meyakinkan, biar lebih manteb. Penjelasannya begini, bapak-bapak yang Aderifki tanya mengaku tidak terlalu yakin sepenuhnya dengan fungsi lampu sein. Meski lampu sein sudah menyala pun tidak menutup kemungkinan tidak dilihat oleh pengendara di belakang. Karena lampu sein kan kecil.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karena itu, untuk mempertebal isyarat belok, selain lampu sein dinyalakan, bapak-bapak pengendara motor plat AB itu menggunakan isyarat lambaian tangan. Asumsinya, lambaian tangan lebih terlihat mata. Dengan begitu, ketika melihat lambaian tangan tersebut, pengendara lain di belakang bisa langsung melihat dan tahu kalau pengendara di depannya hendak berbelok.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Meski terkesan mengherankan, tapi menggunakan isyarat belok pakai lambaian tangan sebenarnya ada dasarnya aturannya loh. Tertuang dalam <a href=\"https:\/\/www.hukumonline.com\/berita\/a\/waspadatilang--pengemudi-tidak-boleh-langsung-belok-kiri-saat-di-persimpangan-jalan-lt5a6fff0863a5f\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Undang-undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ) Nomor 22 Tahun 2009 Pasal 112<\/a>. Dalam Pasal 112 Ayat (1) disebutkan, pengemudi yang akan berbelok atau berbalik arah wajib mengamati situasi lalu lintas di depan, samping, dan belakang kendaraan. Serta, <strong>memberikan isyarat dengan lampu penunjuk arah atau isyarat tangan<\/strong>. Detailnya sebagai berikut:<\/p>\n<ul class=\"Textweb__StyledText-sc-1ed9ao-0 dWkbGA  c275a64364 mt0 mb0 pl20 txfserif txwregular txlarge\" data-qa-id=\"bulleted-list\" data-key=\"64a6a9684210960013a2624b-1688424628973700702-sein-mati-pengendara-belok-tak-lambaikan-tangan-bisa-didenda-rp-250-ribu-20j0AQivcEg-32-16\">\n<li class=\"Textweb__StyledText-sc-1ed9ao-0 jyepe  c275a64364 mt0 mb0 mb10 txfserif txwregular txlarge\" data-qa-id=\"list-item\" data-key=\"64a6a9684210960013a2624b-1688424628973700702-sein-mati-pengendara-belok-tak-lambaikan-tangan-bisa-didenda-rp-250-ribu-20j0AQivcEg-32-17\">\n<p class=\"Textweb__StyledText-sc-1ed9ao-0 jyepe track_paragraph c275a64364 mt0 mb0 txspre-wrap txfserif txwregular txextra-large\" data-qa-id=\"story-paragraph\" data-key=\"64a6a9684210960013a2624b-1688424628973700702-sein-mati-pengendara-belok-tak-lambaikan-tangan-bisa-didenda-rp-250-ribu-20j0AQivcEg-32-18\">(1) Pengemudi Kendaraan yang akan berbelok atau berbalik arah wajib mengamati situasi Lalu Lintas di depan, di samping, dan di belakang Kendaraan serta memberikan isyarat dengan lampu penunjuk arah atau isyarat tangan.<\/p>\n<\/li>\n<li class=\"Textweb__StyledText-sc-1ed9ao-0 jyepe  c275a64364 mt0 mb0 mb10 txfserif txwregular txlarge\" data-qa-id=\"list-item\" data-key=\"64a6a9684210960013a2624b-1688424628973700702-sein-mati-pengendara-belok-tak-lambaikan-tangan-bisa-didenda-rp-250-ribu-20j0AQivcEg-32-19\">\n<p class=\"Textweb__StyledText-sc-1ed9ao-0 jyepe track_paragraph c275a64364 mt0 mb0 txspre-wrap txfserif txwregular txextra-large\" data-qa-id=\"story-paragraph\" data-key=\"64a6a9684210960013a2624b-1688424628973700702-sein-mati-pengendara-belok-tak-lambaikan-tangan-bisa-didenda-rp-250-ribu-20j0AQivcEg-32-20\">(2) Pengemudi Kendaraan yang akan berpindah lajur atau bergerak ke samping wajib mengamati situasi Lalu Lintas di depan, di samping, dan di belakang Kendaraan serta memberikan isyarat.<\/p>\n<\/li>\n<li class=\"Textweb__StyledText-sc-1ed9ao-0 jyepe  c275a64364 mt0 mb0 mb10 txfserif txwregular txlarge\" data-qa-id=\"list-item\" data-key=\"64a6a9684210960013a2624b-1688424628973700702-sein-mati-pengendara-belok-tak-lambaikan-tangan-bisa-didenda-rp-250-ribu-20j0AQivcEg-32-21\">\n<p class=\"Textweb__StyledText-sc-1ed9ao-0 jyepe track_paragraph c275a64364 mt0 mb0 txspre-wrap txfserif txwregular txextra-large\" data-qa-id=\"story-paragraph\" data-key=\"64a6a9684210960013a2624b-1688424628973700702-sein-mati-pengendara-belok-tak-lambaikan-tangan-bisa-didenda-rp-250-ribu-20j0AQivcEg-32-22\">(3) Pada persimpangan Jalan yang dilengkapi Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas, Pengemudi Kendaraan dilarang langsung berbelok kiri, kecuali ditentukan lain oleh Rambu Lalu Lintas atau Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas.<\/p>\n<\/li>\n<\/ul>\n<h2><b>Pengendara motor plat AB Jogja lebih suka nengok ke belakang ketimbang ngecek spion<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masih berhubungan dengan kebutuhan berbelok, pengendara motor plat AB Jogja punya kebiasaan lebih suka nengok langsung ke belakang ketimbang mengecek dari spion. Meskipun di kepala motor terpasang spion gede, tapi pilihannya tetap mengandalkan penglihatan mata langsung tanpa perantara.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemandangan ini bisa dijumpai ketika pengendara hendak menepi atau berpindah jalur. Alih-alih melirik spion terlebih dahulu, kepala mereka justru diputar ke belakang. Kadang cuma sebentar, kadang sampai posisi badan ikut sedikit bergeser. Seolah-olah spion yang terpasang di motor hanya aksesori tambahan, sementara memastikan keadaan di belakang harus dilakukan dengan mata kepala sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cJawaban yang kudapat kurang lebih sama. Pertama, refleks. Kedua, bagi pengendara motor plat AB dengan kebiasaan tersebut, merasa lebih manteb karena bisa melihat secara utuh situasi di belakangnya. Tidak terbatas dalam bingkai spion saja, karena mengira cakupan spion itu ya terbatas,\u201d beber Adrifki.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak hanya itu, lanjut Aderifki, menengokkan kepala ternyata sudah menjadi isyarat yang sudah saling dipahami oleh sebagian orang. Ketika seorang pengendara di depan menengok ke belakang, maka pengendara di belakang sudah langsung menangkap bahwa itu tandanya orang di depannya hendak berbelok atau beralih jalur.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan begitu, ada dua tindakan yang bisa diambil oleh pengendara di belakang. Satu, membunyikan klakson sebagai tanda kalau ia sudah terlanjur tancap gas agak kencang. Bunyi klakson itu sekaligus menjadi peringatan agar pengendara di depan tadi tidak langsung berbelok atau berpindah jalur dulu. Lalu dua, pengendara di belakang itu bisa memelankan laju kendaraannya, memberi kesempatan bagi pengendara yang terlihat nengok tadi untuk melakukan belokan atau perpindahan jalur.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&#8220;Tapi sekali lagi, warlok Jogja itu kan memang punya kode-kode yang hanya bisa dipahami internal. Itu pun internal, sesama warlok sendiri, saja belum tentu paham. Aku misalnya, nggak semua kode-kode khas warlok Jogja paham. Jadi menurutku sih, terutama nengok ke balakang saat berkendara, bahaya juga. Lebih baik manfaatkan spion, daripada nabrak,&#8221; tutur Aderifki.<\/p>\n<p>Penulis: Muchamad Aly Reza<\/p>\n<p>Editor: Ahmad Effendi<\/p>\n<p><em>Cara pengendara motor plat AB Jogja yang selama ini dianggap santun ternyata hanya romantisasi, aslinya ternyata punya 7 dosa bagi pengendara lain sebagaimana terangkum dalam tulisan &#8220;<a href=\"https:\/\/mojok.co\/pojokan\/7-dosa-pengendara-plat-ab-jogja-yang-bikin-nyawa-melayang\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">7 dosa pengendara Plat AB Jogja: Kebiasaan buruk di jalanan yang menelan nyawa dan giliranmu bisa menyusul<\/a>&#8220;.<\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada dua isyarat tubuh khas pengendara motor plat AB alias warlok Jogja sebagai pengganti sein dan spion yang bikin heran pengendara lain.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-420","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wordpress.ichisolution.cloud\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/420","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wordpress.ichisolution.cloud\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wordpress.ichisolution.cloud\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wordpress.ichisolution.cloud\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wordpress.ichisolution.cloud\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=420"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wordpress.ichisolution.cloud\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/420\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wordpress.ichisolution.cloud\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=420"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wordpress.ichisolution.cloud\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=420"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wordpress.ichisolution.cloud\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=420"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}