{"id":417,"date":"2026-10-19T11:47:51","date_gmt":"2026-10-19T11:47:51","guid":{"rendered":"http:\/\/localhost\/wordpress\/gen-z-dicap-tak-punya-etos-kerja-karena-tenggo-dan-work-life-balance-padahal-sudah-benar-buat-apa-loyal-kalau-gaji-stagnan\/"},"modified":"2026-10-19T11:47:51","modified_gmt":"2026-10-19T11:47:51","slug":"gen-z-dicap-tak-punya-etos-kerja-karena-tenggo-dan-work-life-balance-padahal-sudah-benar-buat-apa-loyal-kalau-gaji-stagnan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/wordpress.ichisolution.cloud\/?p=417","title":{"rendered":"Gen Z Dicap Tak Punya Etos Kerja karena Tenggo dan Work Life Balance padahal Sudah Benar, Buat Apa Loyal kalau Gaji Stagnan"},"content":{"rendered":"<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pekerja Gen Z kerap menerima stereotip tidak loyal hingga tidak bergairah kerja. Bahkan sampai ada julukan sarkas buat pekerja Gen Z: Panglima Tenggo. Padahal apa yang mereka terapkan dalam urusan kantor dan pekerjaan\u2014untuk work life balance\u2013-adalah hal yang sudah semestinya.\u00a0<\/span><\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: center;\"><span style=\"font-weight: 400;\">***<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Persis pukul 17.00, Revan (24), pekerja Gen Z di Jogja, pasti langsung berkemas. Jika sudah begitu, pekerja lain\u2014terutama dari kalangan milenial\u2014spontan nyeletuk, \u201cLoh, kok sudah mau pulang aja.\u201d\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan, dalam banyak momen, ada juga yang berkomentar sinis: menganggap bahwa Gen Z tidak punya etos kerja. Sampai ada anekdot: pekerja Gen Z tiap datang ke kantor itu ya hanya untuk menunggu jam pulang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cTapi ya memang, kerja itu cuma nunggu tiga hal: pulang, gajian, dan tanggal merah,\u201d kelakar Revan saat bercerita kepada <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mojok, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Minggu (18\/10\/2026).\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Revan merasa, justru model kerja yang ia terapkan memang sudah semestinya. Tidak melanggar apapun, baik haknya pribadi maupun hak kantor tempatnya bekerja. Justru Revan dan sejumlah temannya sesama Gen Z lah yang heran dengan model kerja kalangan milenial.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Jadi \u201cPanglima Tenggo\u201d: buat apa <\/b><b><i>overtime<\/i><\/b><b> di kantor kalau gaji stagnan<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perkantoran swasta tempat Revan bekerja menerapkan sistem lima hari kerja <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">fulltime<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan setengah hari untuk hari Sabtu. Untuk lima hari kerja <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">fulltime <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">tersebut durasinya 9 jam perhari. Masih di batas normal dari ketentuan dalam <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">RUU Cipta Kerja: waktu kerja reguler dengan maksimal 8 jam perhari atau 40 jam perminggu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka jika Revan bekerja selama 9 jam perhari, lantas di mana letak masalahnya? Itulah kenapa ia merasa di satu sisi agak terganggu dengan julukan sarkas \u201cPanglima Tenggo\u201d untuk pekerja Gen Z. Yakni <a href=\"https:\/\/www.detik.com\/bali\/berita\/d-8321575\/apa-itu-panglima-tenggo-tren-gen-z-yang-ramai-di-media-sosial\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ketika \u201cteng\u201d jam pulang, lantas bergegas \u201cgo\u201d<\/a> (meninggalkan kantor).\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau aku sederhana saja, hidupku bukan cuma buat pekerjaan di kantor. Aku punya kehidupan lain. Jadi untuk apa berlama-lama di kantor. Toh kan sudah sesuai jam kerja. Belum lagi kalau bicara soal gaji,\u201d ungkap Revan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Revan menerima gaji sedikit di atas UMR Jogja. Sedikit lebih beruntung. Sebab, realitas yang terekam dalam Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakrenas) Agustus 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan: sebanyak 25,47% pekerja di Indonesia bekerja lebih dari 49 jam perminggu. Lebih 9 jam dari aturan yang diperlakukan UU Cipta Kerja: 40 jam perminggu. Pada saat yang sama, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/fragmen\/pekerja-terpaksa-overwork-dan-multiple-jobs-karena-upah-rendah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kajian dari Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada<\/a> (FEB UGM) mencatat bahwa upah awal rata-rata pekerja di Indonesia hanya sekitar Rp1,6 juta perbulan.<\/span><\/p>\n<h2><b>Pekerja Gen Z dianggap tak punya etos kerja, padahal sudah kerja sesuai<\/b><b><i> jobdesk <\/i><\/b><b>dan ogah dieksploitasi<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Julukan Panglima Tenggo saja tidak cukup. Pekerja Gen Z, khususnya dalam kasus Revan, kerap dituding tidak memiliki etos dan gairah kerja hanya karena fokus mengerjakan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">jobdesk-<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">nya sendiri saja.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cOrang-orang milenial ini beranggapan, kalau misalnya kita bisa serba bisa, itu jadi nilai plus. Itu jadi modal naik posisi. Dia lupa kalau Gen Z <a href=\"https:\/\/www.cnbcindonesia.com\/lifestyle\/20260903133013-33-764643\/gen-z-ramai-tolak-promosi-jabatan-pakar-ungkap-alasannya\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">nggak tertarik dengan promosi atau kenaikan jabatan<\/a>. Gen Z lebih butuh mentalnya aman dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">work life balance,<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201d beber Revan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lebih dari itu, di kantor Revan, ada kecenderungan bahwa karyawan yang menunjukkan etos kerja lebih atau cepat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">upskilling, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">maka tidak lepas dari kemungkinan bahwa ia akan kerap diperbantukan dalam banyak urusan di luar <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">jobdesk-<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">nya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya, hal itu belum tentu sejalan dengan kenaikan gaji atau pemberian bonus. Hanya akan mendapat predikat \u201ckaryawan dengan loyalitas tinggi\u201d. Tetapi, pertanyaan Revan: Apa harga dari sebuah loyalitas? Loyalitas, dalam kacamata Revan berarti penambahan pekerjaan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi Revan, dengan terlihat biasa-biasa saja, dia justru aman dari kemungkinan dieksploitasi. Sementara untuk mengamankan diri dari potensi PHK, kan asal pekerjaan sesuai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">jobdesk <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">tuntas sekaligus menghindari kesalahan-kesalahan yang bisa berujung pemecatan.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b><i>In this economy<\/i><\/b><b>, tidak cukup andalkan pemasukan dari satu kantor<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau Revan, alasannya memilih menjadi Panglima Tenggo dan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/esai\/gen-z-di-kantor\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kerja sewajarnya<\/a> (sesuai<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> jobdesk <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">saja) memang murni karena ia ingin <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">work life balance. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Bahwa ia juga punya waktu privat untuk kehidupannya sendiri yang tidak semestinya diganggu kantor.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, menurut pengakuannya, beberapa teman Revan sesama pekerja Gen Z (yang bekerja di Jogja, Jakarta, hingga Tangerang), punya alasan oportunis kenapa terkesan kerja sewajarnya saja di kantor masing-masing.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBagi mereka, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">in this economy, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https:\/\/www.idntimes.com\/life\/career\/5-risiko-finansial-jika-hanya-mengandalkan-satu-sumber-income-rawan-01-kc8qq-l17bm7\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">tidak cukup kalau hanya mengandalkan pemasukan dari satu kantor<\/a>. Itulah kenapa, untuk kantor yang jadi pemasukan utamanya, ya batas kerjanya itu, 8 jam perhari. Di luar itu, selain waktu untuk bersantai, mereka milih cari pemasukan tambahan dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">freelance,<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201d terang Revan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau energi mereka sudah habis di satu kantor, pemasukan mereka nggak akan ada pergerakan,\u201d sambungnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<h2><b>Tak respons pesan pekerjaan di hari libur adalah hak, kok dipermasalahkan?<\/b><\/h2>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal tidak jauh berbeda juga dilakukan oleh Delita (25), pekerja Gen Z perempuan di sektor swasta di Jogja. Ia memandang, lembur seharusnya dihitung oleh kantor, sehingga karyawan mendapat hak upah lembur. Masalahnya, di kantor Delita, lembur diposisikan tidak lebih dari konsekuensi karena pekerjaan belum rampung di hari itu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, Delita termasuk kategori pekerja yang enggan merespons pesan berkaitan dengan pekerjaan yang dikirim di hari libur, seperti waktu akhir pekan. \u00a0<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cUntuk apa ada hari libur kalau pas libur saja masih diganggu pekerjaan?\u201d Ujar Delita.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada Mei 2026 lalu<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, Wakil Menteri Ketenagakerjaan, Afriansyah Noor, di hadapan Serikat Pekerja Nasional (SPN) dan Serikat Pekerja Mandiri Indomaret (SPMI) menegaskan bahwa karyawan yang bekerja pada hari libur nasional <a href=\"https:\/\/money.kompas.com\/read\/2026\/05\/27\/130958126\/wamenaker-tegaskan-karyawan-yang-kerja-saat-libur-nasional-wajib-dibayar\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">wajib mendapat upah lembur<\/a> sesuai regulasi dan undang-undang yang berlaku. Ia juga menegaskan sistem penggantian hari atau tukar hari tidak boleh menjadi kompensasi kerja pada hari libur nasional.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPrinsipnya adalah mandatori undang-undang. Jika hari libur nasional masuk bekerja, maka harus dibayar lembur tanpa terkecuali,\u201d ujar Afriansyah mengutip <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kompas.com.\u00a0<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Delita sebenarnya menyadari bahwa <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">sah-sah saja jika atasan memberi perintah melalui media komunikasi seperti WA di luar hari atau jam kerja. Namun, atasan harus memenuhi ketentuan dalam Pasal 77 <\/span><a href=\"https:\/\/www.hukumonline.com\/pusatdata\/detail\/13146\/node\/10\/undangundang-nomor-13-tahun-2003\"><span style=\"font-weight: 400;\">UU No.13 Tahun 2003<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> tentang Ketenagakerjaan: Batasan jam kerja adalah 7 sampai 8 jam sehari. Sehingga jika instruksi di luar hari atau jam kerja harus segera dieksekusi, maka sesuai pernyataan Wamenaker: harus ada upah lemburnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau di kantorku kan nggak ada (upah lembur). Jadi ketika aku nggak respons (pesan atasan di luar hari atau jam kerja), kok malah dipermasalahkan. Yang jadi masalah harusnya kenapa nggak ada mekanisme upah lembur itu.\u201d tukas Delita.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Muchamad Aly Reza<\/p>\n<p>Editor: Ahmad Effendi<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA:\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/harian\/gen-z-hobi-resign-mulai-dari-nol-demi-kewarasan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Gen Z Suka Resign: Tak Masalah Mulai dari Nol Lagi, karena Kewarasan di Atas Loyalitas pada Kantor <\/a>atau liputan Mojok lainnya di rubrik <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan-mojok\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Liputan<\/a><\/strong><\/p>\n<p><br style=\"font-weight: 400;\" \/><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pekerja Gen Z dianggap tak punya etos kerja karena tenggo dan work life balance. Padahal sudah semestinya kerja sesuai jobdesk dan jam.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-417","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-uncategorized"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/wordpress.ichisolution.cloud\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/417","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/wordpress.ichisolution.cloud\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/wordpress.ichisolution.cloud\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wordpress.ichisolution.cloud\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/wordpress.ichisolution.cloud\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=417"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/wordpress.ichisolution.cloud\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/417\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/wordpress.ichisolution.cloud\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=417"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/wordpress.ichisolution.cloud\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=417"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/wordpress.ichisolution.cloud\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=417"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}